Langsung ke konten utama

Postingan

Pernahkah Kita Hidup?

Apakah kematian di dunia itu mati? Dan yang hidup di dunia itu hidup? Kita dilahirkan hidup, tapi tidak semua orang hidup Sebagian nama masih tetap hidup, ketika jasadnya di kubur Kita lahir dari sebuah Rahim, tapi bukan awal kehidupan Kita mati ke liang kubur, bukan akhir kehidupan Mari kita tetap berjalan kawan Kita manusia, beragama, berkeyakinan Hidupnya bukan hanya tentang nafas, hewan pun bernafas Agama ini hidup kita, Saat kita menjejakinya, maka itulah kehidupan Bukan untuk berlari, berusaha memperpanjangnya Langkah kita untuk agama, pendakian kita untuk agama, senyuman kita untuk agama Semua perjuangan untuk agama, Lantas apalagi yang akan mematikan  kita Jangan lupa untuk apa kita hidup, kalau bukan untuk mati Karena bertemu kita pun berpisah, karena hidup kita pun mati Lalu karena mati kita hidup kembali, dan bahagia Bagi mereka yang menangis karena agama Daging kita milik belatung, hati kita milik pasangan, nyawa kita milik...

Belajar Cita dan Cinta dari Kang Abay

Kesempatan mendengar langsung pemaparan dari penulis novel Cinta dalam Ikhlas sangat mengagumkan. Saya sendiri pecinta nasyid, termasuk lagu mellow yang khas dibawakan penulis novel tadi. Lebih kepada lirik yang bermakna dan menyentuh, mungkin kalau baca novelnya bisa lebih kena di hati. Saya belum membacanya karena kurang gairah terhadap novel. Tapi mendengar poin dari penulisnya langsung cukup akan memaksa saya membeli dan membacanya. Kang Abay mengatakan sengaja menempatkan bab tentang "Kehilangan" di awal ceritanya, karena ingin menjadikan ikhlas sebagai poin besar dalam kehilangan itu sendiri. Kita gagal move on karena belum ikhlas dalam cinta, akan lebih tidak ikhlas ketika keilangannya. Sedangkan yang kita khawatirkan itu semuanya titipan. Sekalipun itu anak dan istri, itulah titipan dari Allah. Kehilangan memang menyedihkan jika itu milik kita. Masalahnya kan kita tidak pernah memiliki apa-apa kecuali nyawa, pada akhirnya nyawa itu juga milik Allah. Yang ki...

Surat Kecil untuk Pejuang Ilmu

Surat Cinta untuk Pejuang Ilmu Oleh : Azhar Fakhru Rijal Wahai para pejuang ilmu... Apa yang kalian pikirkan dengan perpisahan? Bukan jarak, hubungan atau canda tawanya Tapi sejauh mana kita bersama Saat dunia terasa menjepit langkah kita Wahai para pejuang ilmu... Sekalipun jangan pernah salahkan ilmu yang menjauhkan Karena sejatinya ilmu menyatukan kita semua Ilmu bukan barang murah, jangan mau mendapatkannya gratis DR Adian Husaini berpesan "Jika menuntut ilmu adalah jihad, maka apa yang kita keluarkan untuk menuntut ilmu adalah jihad" Wahai para pejuang ilmu... Jangan pula takut ditinggal orang-orang tercinta Sesungguhnya kita tidak pernah tahu mereka kecuali Allah dan Rasulnya Maka dari itu permintaan manusia tidak boleh terbelah oleh dunia Biarkan kebaikan kita menjawab kebaikan Tuhan Wahai para pejuang ilmu... Bangunan, tanah dan kebahagiaan bukan hanya kenangan Namun sebuah ingatan yang kalian sendiri akan menguburnya Saya katakan, jangan ...

Polisi Itu Baik

Beberapa hari sebelum hari raya idul fitri 1438 H saya pergi mengelilingi kota Tasikmalaya. Jalan sangat padat dan macet. Jalan-jalan dan trotoar dipenuhi orang-orang yang belanja uuntuk hari raya. Dan di setiap perempatan polisi dan tentara berjaga mengawal dan mengamankan. Namun, mendekati maghrib awan mulai mendung, beberapa titik sudah mulai hujan terlihat dari mobil lewat yang basah dan pengendara motor yang sudah memakai mantel. Dan hujan pun turun, tapi polisi dan tentara masih tegak berjaga di setiap perempatan jalan. Bahkan hingga waktu berbuka sudah tiba. Ketika itu saya bertanya pada diri sendiri, “Dalam pengorbanannya, adakah orang-orang sekitar yang mempedulikannya?”. Waktu berbuka sudah tiba, dan tidak ada keluarga di sekitarnya, siapa yang memberinya makan? Berilah mereka beberapa butir kurma. Merekalah abdi negara. Di tengah tugas berat yang membebaninya, mereka cukup tegar ketika dihadapkan dengan masalah-masalah yang memancing amarah. Tentu saya memband...

Mencari Kemuliaan

Menjadi seorang yang mulia adalah keniscayaan. Setiap manusia ingin menjadi sosok mulia atau dimuliakan. Hanya pada praktiknya mereka lupa, bahwa jalan kemuliaan itu tidak semudah membalikan telak tangan. Rasulullah ditempa sejak kecil hingga akhir hayatnya sehingga disebut sebagai seorang yang mulia di hadapan makhluk seluruh alam. Begitu juga pejuang-pejuang lainnya. Termasuk kita memuliakan orang-orang yang dicintai. Ketika cinta yang berbicara, maka hati yang menggerakan seluruh badan. Cinta suci adalah cara kita memuliakan mereka. Misalnya kita cinta orang tua, yang kita lakukan adalah hal-hal mulia buat mereka. Menghajikannya, mendoakannya, berakhlak baik. Ketika kita cinta terhadap seorang perempuan, maka bukti cinta itu adalah hal-hal yang membuatnya mulia dihadapan kita dan Tuhannya. Bukan hal sebaliknya.  Begitulah cinta suci membawa pada kemuliaan. Cinta suci adalah ketaatan. Ketika seorang laki-laki dihadapkan dengan seorang perempuan. Memujanya, mengikuti semua ...

Kita Menang

19 April 2017 adalah hari pemilihan Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Siang itu seorang santri masuk ke kantor saya untuk menitipkan kameranya (Saya mengajar di SMPIT Al-Multazam 2). Tiba-tiba dia bertanya, "Pak, gimana Jakarta?", kebetulan saya terus streaming memantau hasil quick count dari 0% sampai 99%. "Alhamdulillah, InsyaAllah menang". Sontak si anak lari keluar, mendekati teman-temannya di lapangan sambil berteriak "Ahok kalah... Anies menang...". Betapa mereka menyadari kemenangan ini bukan kemenangan biasa. Logisnya, dia masih anak SMP kelas 8, asal rumahnya juga dari Lampung, mungkin pengetahuan politiknya juga sangat minim. Terlebih di sini mereka tidak menonton TV. Hal ini menyadarkan kepada kita bahwa disanalah kekuatan Islam. Tidak ada uang, jabatan, popularitas, semuanya tidak pernah menakuti seorang yang beriman. Seorang anak ketika paham bahaya yang terjadi jika pak Ahok terpilih dan mampu mengepresikannya dengan full itu sunggu...

Mari Kita Hidup Bersama

Dunia terlalu luas tuk kita jadikan tempat berkeluh. Cukup berjalan menyisir jalur kebenaran. Keluh kesah kau temukan tapi itu dinamika. Ujian itu hanya secerca sedang jalan lurus adalah selamanya. Islam kuat untuk manusia yang maslahat dan sejahtera. Jangan kau ragukan kebenaran orang yang lebih dulu dekat dengan Allah meski kau lebih pintar. Persatuan cukup jadi alasan mengapa kita bersandiwara. Jangan pula kau tanyakan cadar menutupi wajah para wanita nan anggun mempesona. Karena saya sudah temukan mereka loncat girang melihat fatin dan "kun anta". Begitu juga celana cingkrang dan janggut, kita akan hidup bersama dengan levis ketat dan sarungan. Pahami apa isinya hingga sampai kita berhusnuzon bahwa kita bersama sedang menuju jalan Allah. Tulisan ini mungkin berdasar atas kehilafan yang terus berulang. Tapi jangan kau bunuh aku dengan otak jahat itu. Sekulerisme, pluralisme dan liberalisme cukup memanaskan perdebatan otak kecil ini. Mana ada manusia yang kuat menahan ? ...