Langsung ke konten utama

Postingan

Kita dan Dunia Maya (1)

Berbicara tentang media sosial memang tidak akan ada habisnya, ia barang baru yang terus berkembang setiap harinya. Selama permasalahan larut mengikuti konsep yang semakin kompleks, selama itu hal-hal baru memang harus berkembang. Karena begitulah hakikat ilmu sebagai jawaban untuk perjalanan hidup kita. Kita dituntut untuk selangkah lebih maju dari pada masalah yang ada. Maka kreativitas, kelihaian dan kepandaian kita diuji dalam menghadapi kehidupan yang semakin rumit ini. Media sosial adalah salah satu jawaban atas semakin cepatnya pergerakan hidup di dunia. Media sosial (medsos) mungkin menjadi jawaban dari berkembangya alat komunikasi. Meskipun begitu tidak efektif jika kita menyerahkan seluruh kehdiupan disini, karena faktanya pengguna medsos belum merata. Masih ada sisi-sisi dimana kita harus berbagi di dunia nyata selain di dunia maya. Meskipun tidak bisa dipungkiri kita harus bergerak dan menyerahkan segenap hidup kita di dunia maya. Kita harus memahami bahwa medi...

SABAR

Ada warna yang tak biasa Ketika sebentar saja tak bercengkrama Memanjakan rasa dan asa Berjalan untuk tujuan yang sama Setiap manusia dinanti kematian Esensi itu bukanlah kesempurnaan Tapi keyakinan untuk bertahan Karena sabar bukan sekedar penantian Ini bukan tentang bosan dan waktu luang Sebab setia adalah ketuntasan Dari janji-janji yang telah terucapkan Mungkin ini yang kau sebut dengan kesabaran

Belajar Setia dari Musa as

Yahudi memiliki sejarah panjang yang tidak akan habis dibukukan hingga diceritakan. Dinamika permasalahan di setiap era selalu beragam, tantangan nya semakin memanas. Dari mulai keturunan, perilaku, disiksa, menyiksa, membangkang bahkan menjajah. Kisahnya tidak hanya dialami oleh satu, dua nabi saja. Beberapa nabi berkesempatan membersamai kaum Yahudi. Perjalanan terpanjang dan paling banyak dikisahkan ibrahnya ketika mereka (Yahudi) diamanhkan kepada nabi Musa As. Bermula dari Yahudi tertindas, lalu Musa menyelamatkannya hingga perbatasan Palestina. Ia tidak sendirian, Musa ditemani oleh Harun as saudaranya. Seperti disebutkan dalam al-Quran, Musa mengalami kejadian naas ketika Raja Firaun memasukan sejenis batu panas ke mulutnya. Sehingga kurang jelas berbicara, namun tegas dalam bersikap. Sedangkan Harun pandai berbicara. Perjuangan Musa tidaklah kecil, ia harus terbuang saat dirinya baru lahir, lalu mengalami perdebatan dengan Firaun hingga akhirnya ia menjadi utusan Allah ...

Pernahkah Kita Hidup?

Apakah kematian di dunia itu mati? Dan yang hidup di dunia itu hidup? Kita dilahirkan hidup, tapi tidak semua orang hidup Sebagian nama masih tetap hidup, ketika jasadnya di kubur Kita lahir dari sebuah Rahim, tapi bukan awal kehidupan Kita mati ke liang kubur, bukan akhir kehidupan Mari kita tetap berjalan kawan Kita manusia, beragama, berkeyakinan Hidupnya bukan hanya tentang nafas, hewan pun bernafas Agama ini hidup kita, Saat kita menjejakinya, maka itulah kehidupan Bukan untuk berlari, berusaha memperpanjangnya Langkah kita untuk agama, pendakian kita untuk agama, senyuman kita untuk agama Semua perjuangan untuk agama, Lantas apalagi yang akan mematikan  kita Jangan lupa untuk apa kita hidup, kalau bukan untuk mati Karena bertemu kita pun berpisah, karena hidup kita pun mati Lalu karena mati kita hidup kembali, dan bahagia Bagi mereka yang menangis karena agama Daging kita milik belatung, hati kita milik pasangan, nyawa kita milik...

Belajar Cita dan Cinta dari Kang Abay

Kesempatan mendengar langsung pemaparan dari penulis novel Cinta dalam Ikhlas sangat mengagumkan. Saya sendiri pecinta nasyid, termasuk lagu mellow yang khas dibawakan penulis novel tadi. Lebih kepada lirik yang bermakna dan menyentuh, mungkin kalau baca novelnya bisa lebih kena di hati. Saya belum membacanya karena kurang gairah terhadap novel. Tapi mendengar poin dari penulisnya langsung cukup akan memaksa saya membeli dan membacanya. Kang Abay mengatakan sengaja menempatkan bab tentang "Kehilangan" di awal ceritanya, karena ingin menjadikan ikhlas sebagai poin besar dalam kehilangan itu sendiri. Kita gagal move on karena belum ikhlas dalam cinta, akan lebih tidak ikhlas ketika keilangannya. Sedangkan yang kita khawatirkan itu semuanya titipan. Sekalipun itu anak dan istri, itulah titipan dari Allah. Kehilangan memang menyedihkan jika itu milik kita. Masalahnya kan kita tidak pernah memiliki apa-apa kecuali nyawa, pada akhirnya nyawa itu juga milik Allah. Yang ki...

Surat Kecil untuk Pejuang Ilmu

Surat Cinta untuk Pejuang Ilmu Oleh : Azhar Fakhru Rijal Wahai para pejuang ilmu... Apa yang kalian pikirkan dengan perpisahan? Bukan jarak, hubungan atau canda tawanya Tapi sejauh mana kita bersama Saat dunia terasa menjepit langkah kita Wahai para pejuang ilmu... Sekalipun jangan pernah salahkan ilmu yang menjauhkan Karena sejatinya ilmu menyatukan kita semua Ilmu bukan barang murah, jangan mau mendapatkannya gratis DR Adian Husaini berpesan "Jika menuntut ilmu adalah jihad, maka apa yang kita keluarkan untuk menuntut ilmu adalah jihad" Wahai para pejuang ilmu... Jangan pula takut ditinggal orang-orang tercinta Sesungguhnya kita tidak pernah tahu mereka kecuali Allah dan Rasulnya Maka dari itu permintaan manusia tidak boleh terbelah oleh dunia Biarkan kebaikan kita menjawab kebaikan Tuhan Wahai para pejuang ilmu... Bangunan, tanah dan kebahagiaan bukan hanya kenangan Namun sebuah ingatan yang kalian sendiri akan menguburnya Saya katakan, jangan ...

Polisi Itu Baik

Beberapa hari sebelum hari raya idul fitri 1438 H saya pergi mengelilingi kota Tasikmalaya. Jalan sangat padat dan macet. Jalan-jalan dan trotoar dipenuhi orang-orang yang belanja uuntuk hari raya. Dan di setiap perempatan polisi dan tentara berjaga mengawal dan mengamankan. Namun, mendekati maghrib awan mulai mendung, beberapa titik sudah mulai hujan terlihat dari mobil lewat yang basah dan pengendara motor yang sudah memakai mantel. Dan hujan pun turun, tapi polisi dan tentara masih tegak berjaga di setiap perempatan jalan. Bahkan hingga waktu berbuka sudah tiba. Ketika itu saya bertanya pada diri sendiri, “Dalam pengorbanannya, adakah orang-orang sekitar yang mempedulikannya?”. Waktu berbuka sudah tiba, dan tidak ada keluarga di sekitarnya, siapa yang memberinya makan? Berilah mereka beberapa butir kurma. Merekalah abdi negara. Di tengah tugas berat yang membebaninya, mereka cukup tegar ketika dihadapkan dengan masalah-masalah yang memancing amarah. Tentu saya memband...