Langsung ke konten utama

Postingan

Surat Kecil untuk Pejuang Ilmu

Surat Cinta untuk Pejuang Ilmu Oleh : Azhar Fakhru Rijal Wahai para pejuang ilmu... Apa yang kalian pikirkan dengan perpisahan? Bukan jarak, hubungan atau canda tawanya Tapi sejauh mana kita bersama Saat dunia terasa menjepit langkah kita Wahai para pejuang ilmu... Sekalipun jangan pernah salahkan ilmu yang menjauhkan Karena sejatinya ilmu menyatukan kita semua Ilmu bukan barang murah, jangan mau mendapatkannya gratis DR Adian Husaini berpesan "Jika menuntut ilmu adalah jihad, maka apa yang kita keluarkan untuk menuntut ilmu adalah jihad" Wahai para pejuang ilmu... Jangan pula takut ditinggal orang-orang tercinta Sesungguhnya kita tidak pernah tahu mereka kecuali Allah dan Rasulnya Maka dari itu permintaan manusia tidak boleh terbelah oleh dunia Biarkan kebaikan kita menjawab kebaikan Tuhan Wahai para pejuang ilmu... Bangunan, tanah dan kebahagiaan bukan hanya kenangan Namun sebuah ingatan yang kalian sendiri akan menguburnya Saya katakan, jangan ...

Polisi Itu Baik

Beberapa hari sebelum hari raya idul fitri 1438 H saya pergi mengelilingi kota Tasikmalaya. Jalan sangat padat dan macet. Jalan-jalan dan trotoar dipenuhi orang-orang yang belanja uuntuk hari raya. Dan di setiap perempatan polisi dan tentara berjaga mengawal dan mengamankan. Namun, mendekati maghrib awan mulai mendung, beberapa titik sudah mulai hujan terlihat dari mobil lewat yang basah dan pengendara motor yang sudah memakai mantel. Dan hujan pun turun, tapi polisi dan tentara masih tegak berjaga di setiap perempatan jalan. Bahkan hingga waktu berbuka sudah tiba. Ketika itu saya bertanya pada diri sendiri, “Dalam pengorbanannya, adakah orang-orang sekitar yang mempedulikannya?”. Waktu berbuka sudah tiba, dan tidak ada keluarga di sekitarnya, siapa yang memberinya makan? Berilah mereka beberapa butir kurma. Merekalah abdi negara. Di tengah tugas berat yang membebaninya, mereka cukup tegar ketika dihadapkan dengan masalah-masalah yang memancing amarah. Tentu saya memband...

Mencari Kemuliaan

Menjadi seorang yang mulia adalah keniscayaan. Setiap manusia ingin menjadi sosok mulia atau dimuliakan. Hanya pada praktiknya mereka lupa, bahwa jalan kemuliaan itu tidak semudah membalikan telak tangan. Rasulullah ditempa sejak kecil hingga akhir hayatnya sehingga disebut sebagai seorang yang mulia di hadapan makhluk seluruh alam. Begitu juga pejuang-pejuang lainnya. Termasuk kita memuliakan orang-orang yang dicintai. Ketika cinta yang berbicara, maka hati yang menggerakan seluruh badan. Cinta suci adalah cara kita memuliakan mereka. Misalnya kita cinta orang tua, yang kita lakukan adalah hal-hal mulia buat mereka. Menghajikannya, mendoakannya, berakhlak baik. Ketika kita cinta terhadap seorang perempuan, maka bukti cinta itu adalah hal-hal yang membuatnya mulia dihadapan kita dan Tuhannya. Bukan hal sebaliknya.  Begitulah cinta suci membawa pada kemuliaan. Cinta suci adalah ketaatan. Ketika seorang laki-laki dihadapkan dengan seorang perempuan. Memujanya, mengikuti semua ...

Kita Menang

19 April 2017 adalah hari pemilihan Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Siang itu seorang santri masuk ke kantor saya untuk menitipkan kameranya (Saya mengajar di SMPIT Al-Multazam 2). Tiba-tiba dia bertanya, "Pak, gimana Jakarta?", kebetulan saya terus streaming memantau hasil quick count dari 0% sampai 99%. "Alhamdulillah, InsyaAllah menang". Sontak si anak lari keluar, mendekati teman-temannya di lapangan sambil berteriak "Ahok kalah... Anies menang...". Betapa mereka menyadari kemenangan ini bukan kemenangan biasa. Logisnya, dia masih anak SMP kelas 8, asal rumahnya juga dari Lampung, mungkin pengetahuan politiknya juga sangat minim. Terlebih di sini mereka tidak menonton TV. Hal ini menyadarkan kepada kita bahwa disanalah kekuatan Islam. Tidak ada uang, jabatan, popularitas, semuanya tidak pernah menakuti seorang yang beriman. Seorang anak ketika paham bahaya yang terjadi jika pak Ahok terpilih dan mampu mengepresikannya dengan full itu sunggu...

Mari Kita Hidup Bersama

Dunia terlalu luas tuk kita jadikan tempat berkeluh. Cukup berjalan menyisir jalur kebenaran. Keluh kesah kau temukan tapi itu dinamika. Ujian itu hanya secerca sedang jalan lurus adalah selamanya. Islam kuat untuk manusia yang maslahat dan sejahtera. Jangan kau ragukan kebenaran orang yang lebih dulu dekat dengan Allah meski kau lebih pintar. Persatuan cukup jadi alasan mengapa kita bersandiwara. Jangan pula kau tanyakan cadar menutupi wajah para wanita nan anggun mempesona. Karena saya sudah temukan mereka loncat girang melihat fatin dan "kun anta". Begitu juga celana cingkrang dan janggut, kita akan hidup bersama dengan levis ketat dan sarungan. Pahami apa isinya hingga sampai kita berhusnuzon bahwa kita bersama sedang menuju jalan Allah. Tulisan ini mungkin berdasar atas kehilafan yang terus berulang. Tapi jangan kau bunuh aku dengan otak jahat itu. Sekulerisme, pluralisme dan liberalisme cukup memanaskan perdebatan otak kecil ini. Mana ada manusia yang kuat menahan ? ...

Kamilah Generasi Muda

Karya : Ihsan Abdul Ghani (Kelas 7B SMPIT ALMULTAZAM 2) Wahai teman-teman sekalian Di era globalisasi ini Di periode akhir zaman ini Di masa kehancuran ini Kita butuh generasi muda yang baru Tapi mana !!! Mana pemuda bangsa kita !!?? MANA !!?? Pemuda kita telah hancur pemikirannya Mereka bagaikan kecoa kotor Berkeliaran dimana-mana Tergeletak dimana-mana Mabuk-mabukan, pacaran, bolos Apakah ini pemuda Indonesia? Yang katanya dulu mengibarkan bendera Indonesia Yang katanya dulu tak rela bangsanya dijajah Yang katanya dulu tak rela harga diri bangsanya diinjak-injak Tapi apa jadinya sekarang??? Adzan sudah dikumandangkan Namun barisan hanya dipenuhi orang tua Kajian hanya diisi bapak-bapak Kemana perginya pemuda ? Siang mereka berubah jadi malam, Malam mereka berubah jadi siang Mereka dijadikan  budak oleh puntung rokok dan botol hijau Dan akhirnya ... Santri-santri mulai bermunculan Mereka berdakwah tanpa rasa lelah Hanya surga yang ada dipikirann...

Atas Nama Cinta

Realita kehidupaan manusia semakin tak tentu arah. Dulunya materi menjadi problem terbesar karena telah mengklasifikasikan kedudukan manusia. Atas dasar cinta hal tersebut mulai hilang. Tapi sikap tidak peduli justru muncul dengan cinta (katanya). Cinta seperti menampilkan dunia ini hanya milik pribadi atau pasangannya. Lupa dengan para pengemis, anak-anak jalan, anak miskin. Bagi sebagian orang, cinta itu semacam ketetapan hati manusia yang tak boleh diganggu gugat, bahkan oleh Tuhan sekalipun. Kalau sudah memutuskan untuk jatuh cinta, maka tak ada yang boleh mengajukan kritik atau interupsi. Ketika mata tertuju pada satu orang lelaki atau perempuan, maka populasi manusia yang lainnya sudah dianggap tidak relevan. Begitu kenalnya manusia dengan cinta, sehingga seolah-olah ia tak mungkin salah. Seolah-olah ia sudah menemukan yang terbaik, dan tak ada lagi yang lebih baik darinya. Mungkin sebab inilah manusia semakin termakan ego dirinya sendiri. Membenamkan orang-orang yang peduli d...