Langsung ke konten utama

Standar Ganda Definisi Terorisme (2)



Dominasi kekuatan tertentu atas informasi dan jaringan media mainstream yang secara global mendominasi peta percaturan ekonomi-politik jejaring media di dunia sedikit banyaknya telah membentuk anggapan publik yang beragam. Segala kecurigaan menjadi semu karena fakta publik tidak banyak memiliki bukti untuk mengiyakan tuduhannya. Sekalipun ada, proses yang harus ditempuh tidak mudah bagi masyarakat bawah yang menjadi konsumen media mainstream tersebut.

Saat yang sama, media perlu menggalakan lagi proses tabayyun yang menjadi pedoman etis dan teknis jurnalistik. Rumusan etika jurnalisme adalah langkah strategis yang dijunjung tinggi para pekerja media di seluruh dunia. Perihal ini menjadi sangat urgen karena opini publik era sekarang tumbuh dari benih-benih media yang dipertontonkan. Sehingga definisi apapun yang dikehendaki akan terwujud dalam benak publik secara umum. Begitulah definisi terorisme beralih makna dari segala bentuk pelanggar hukum yang menggunakan kekuatan atau kekerasan menjadi identik dengan Islam. Lucunya aksi teroris selalu disandingkan dengan teori jihad.

Jika umat Islam militan dilabeli teroris dan dianggap media sebagai terror teburuk dan terkejam di muka bumi, timbul pertanyaan; mengapa media tidak kritis membandingkan tuduha tersebut dengan sejarah kekejaman rezim AS di negaranya sendiri (yang membantai warga Indian dan Negro), di Nagasaki dan Hiroshima, Vietnam, Palestina, Iran, Irak, Afrika Selatan, Chile, Afghanistan dan sebagainya. (Majalan AL-ISLAMIYAH, 2012)

Lalu publik seolah tidak lagi kritis dengan pertanyaan sederhana; Siapa yang membunuh sekitar 20 juta penduduk Aborigin di Australia? Siapa yang mengirim bom di Hiroshima dan Nagasaki? Siapa yang membantai rakyat Palestina berpuluh tahun? Inilah bukti propaganda mereka mengontrol definisi terorisme. Sederhananya, jika selain nonmuslim melakukan tindakan buruk, itu adalah tindak kriminal. Jika menggunakan senjata, maka ia kriminal bersenjata. Namun, jika Islam militant melakukan tindakan yang sama, di mata media ia adalah teroris.

Ambil contoh kasus penembakan brutal Ahad (01/10), di Las Vegas. Aksi yang dilakukan oleh Stephen Paddock menewaskan 59 orang dan ratusan luka-luka. Sampai-sampai insiden tersebut dikatakan paling mematikan dalam sejarah AS. Diluar isu murahan tentang ia seorang muallaf atau isu lainnya, tidak ada media mainstream AS yang melabeli Paddock sebagai teroris. Bahkan Donald Trump sendiri hanya menyebutnya dengan istilah “pure evil” dan menghindari kata teroris. Berbeda dengan di Indonesia khususnya, cukup dengan bom panci murahan, korban 1-2 orang bahkan tidak ada, selama identitas diri menunjukan Islam, maka itulah terorisme.

Dari berbagai fakta yang sudah dilakukan AS misalnya, tidak pernah ada penyajian atau setidaknya upaya verifikasi dan validasi media atas fakta-fakta yang ada. Meskipun ada, fakta tersebut akan dinafikan sebagai teori konspirasi belaka. Jika media memperoleh informasi yang tidak sejalan dengan framingnya, maka timbul keengganan untuk mencari kebenarannya. Lebih-lebih jika harus diajukan ke meja hijau. Berbeda dengan kasus runtuhnya gedung kembar WTC, di tengah kejanggalan dan bukti dari para pakar, Islam militan (al-Qaeda) langsung dilabeli sebagai teroris.

Definisi seperti itu harus kita hilangkan dan rubah. Giat-giatnya sudah mulai terlihat, umat Islam mulai berani menunjukan dirinya sebagai seorang Islam militan. Kajian-kajian tentang jihad dalam Islam juga harus semakin digalakan, sehingga makna jihad yang ekstrim harus digeser menjadi membela Islam dengan sungguh-sungguh. Makna jihad harus ditempatkan kepada makna yang seharusnya, bukan makna khayalan dari propaganda media. Setidaknya standar ganda tentang definisi terorisme yang acapkali menyudutkan Islam bisa kita lawan.

Wallahua’lam bisshowab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teruntuk Pemuda (Special Edition)

Tidak berlebihan setiap tokoh selalu menjatuhkan beban masa depan bangsa kepada pemuda. Terlalu banyak nilai dari kisah yang mengagumkan dengan menonjolkan seorang pemuda menjadi sosok manusia super (superman ). Seakan segala kondisi disebabkan oleh pemuda dan akan dituntaskan oleh pemuda juga. Fenomena pemuda seperti cerita hero (jagoan), menarik dibicarakan karena hero akan bertemu lawan yang sepadan pada masanya. Dan pemuda tinggal memilih posisi mana yang akan ia perankan. Islam tidak main-main jika berbicara pemuda. Kisah ashabul kahfi Allah swt sampaikan kepada Rasulullah sebagai motivasi bagi pemuda saat itu. Bagi seorang muslim harus meyakini bahwa salah satu pertanyaan kepada anak Adam pada hari kiamat kelak adalah “tentang masa mudanya dimana dia usangkan?”. Rasulullah saw berpesan, “manfaatkan 5 perkara sebelum 5 perkara; waktu muda mu sebelum datang waktu tua mu...”. Pemuda memiliki berbagai karakteristik yang menonjol, kondisi ini menjadikan dirinya dominan dal...

Perempuan Menutup Aurat atau Lelaki Menahan Nafsu?

Polemik patriarki selalu jadi tema pembahasan para feminism. Ada sudut pandang lain yang menurut mereka lelaki terlalu spesial dari perempuan.  Salah satunya soal perintah perempuan harus menutup aurat, lalu dihubungkan dengan soal tindakan kriminal, pemerkosaan dan menjaga kehormatan. Feminism melihat bukan soal perempuan yang harus menutup aurat, tapi lelakilah yang harus menahan nafsu. Dari sinilah perseteruan dimulai! Menurut saya, tidak ada polemik yang perlu diperpanjang, entah siapa yang memulai, tapi pembahasan ini seharusnya selesai sejak kedua titah itu dituliskan. Jika dilanjutkan, akhirnya muncul ribuan pertanyaan. Kenapa perempuan harus bertanggung jawab atas nafsu lelaki? Kenapa perempuan yang harus jaga diri dari lelaki, bukan sebaliknya? Dari pihak lain akan bertanya juga dengan konteksnya.  Menutup aurat itu kewajiban bagi perempuan, begitu juga menahan nafsu wajib bagi lelaki. Ego masing-masing yang membuat perdebatan ini tidak ada endingnya. Ada satu perspek...

Literasi Kopi (1)

Gambar oleh  Free Photos  dari  Pixabay Kita sedang hidup di era semua permasalahan bisa terselesaikan oleh secangkir kopi. Renungan derita pekerjaan selama satu pekan seolah cair oleh kopi. Setumpuk tugas di atas meja kerja seakan tuntas terbawa arus tegukan kopi. Dari puluhan kata kopi yang terucap setiap harinya, seberapa jauh pengetahuan mereka tentang kopi. Apakah kopi hitam bercampur dengan logo kapal pinisi itu jadi standardisasi kopi yang dimaksud? Ataukah suasana kafe yang estetik dan instagramabble adalah maksud dari kopi? Menjadikan kopi sebagai langkah menyelesaikan masalah memang salah satu jawaban. Tidak bisa kita salahkan, tidak juga sepenuhnya kita benarkan. Kopi adalah biji dari tumbuhan kopi, melalui beragam proses, maka lahirnya bubuk kopi yang siap seduh. Mengapa kalimat di atas patut kita benarkan? Sebab kopi mengandung kafein yang dapar merangsang semangat. Mari sempatkan kita baca beberapa artikel atau jurnal tentang kopi yang berhubungan dengan pen...