Tentang kaidah peradaban yang akan
berganti dan selalu berubah, sebuah peradaban akan membutuhkan lawan untuk
menunjukan diri sebagai kekuatan yang tak tertandingi. Ketika supremasi dan
hegemoni habis, peradaban butuh eksistensi yang meninggikan namanya dan
ditakuti. Pasca berakhirnya perang dingin, Barat berlanjut kepada peran
memerangi terorisme. Isu besar terorisme ditujukan untuk menyatukan AS dan
sekutunya. Samuel Huntington dalam bukunya Who Are We? menyatakan, musuh
Pemerintah AS sudah ketemu, yaitu kaum Islam militan. Berkat isu terorisme,
posisi Komunisme dan Uni Soviet yang menjadi musuh utama mereka, kini berpindah
kepada Islam militan secara umum.
Strategi ghazwul fikr yang
dilakukan AS adalah cara lama yang sudah digunakan oleh para orientalis
terdahulu. Status dan opini yang bergulir bertujuan melemahkan akidah, ghirah
dan kecintaan umat terhadap agamanya. Kasus ini menempatkan opini publik
menjadi kedudukan penting yang perlu direbut dan digalakan secara intensif
melalui media berita, informasi dan berbagai produk media lainnya.
Dengan kekuatan global dan jaringan
media yang dimiliki, dalam waktu singkat AS telah berhasil mengontrol publik
(muslim maupun non-muslim) bahwa terorisme yang sejak dulu dipahami sebagai
tindakan kriminal, tiba-tiba berubah wajah, terorisme seolah hanya identik
dengan perbuatan Islam militan. (Majalah Al-Islamiyah, 2012)
Selain mengarahkan pemahaman dunia
terhadap makna terorisme, paham ini juga mempengaruhi umat Islam sekaligus. Opini
terorisme yang selalu dihubungkan dengan gamis, KTP beragama Islam, kitab Jihad
dan apapun yang berhubungan dengan Islam telah meruntuhkan kepercayaan umat
Islam terhadap agamanya. Kini umat menjadi ragu menunjukan dirinya sebagai
seorang muslim sejati hanya karena takut dicap teroris.
Seiring berjalannya waktu umat Islam
mulai sadar, namun kesadarannya tidak berbanding lurus dengan serangan
sistematis yang dilakukan Barat untuk tetap menyudutkan Islam melalui isu
terorisme. Kasus ini semakin berkembang hingga setiap persoalan teror Islam
akan dikambing hitamkan. Publik menjadi tidak kritis untuk mempertanyakan
apakah Islam dan terorisme sedang bekerja sama. Memang tidak ada pembungkaman
kritik, namun penggiringan opini yang intensif sudah menghentikannya sejak
pertanyaa itu muncul ke alam pikiran.
Kelanjutan dari cerita penggiringan
opini adalah semakin kuatnya Barat (AS) dari tuduhan bahwa dirinya adalah
seorang teroris ulung. Padahal sejarah tidak bisa berbohong dan menutupi lagi
tentang kiprah mereka dalam bertindak kesewenang-wenangan melanggar hukum dan
menimbulkan kekacauan di seluruh belahan dunia. Kini label teroris terlanjur
ditujukan kepada umat Islam. Dan pada saat yang sama organisasi teroris yang
mengatasnamakan Islam bermunculan. Sejarah asal-usul yang tidak jelas, hingga
ditemukannya bukti-bukti janggal tentang hubungan antara kaum jihadis (baca :
ISIS) dengan Negara adidaya semakin menimbulkan kecurigaan di mata publik.
Apa sebenarnya dibalik definisi
terorisme yang mereka kisahkan?
Wallahua’lam
bisshowab.

Komentar
Posting Komentar