Kini kata politik selalu diidentikan dengan
kebencian, saling hujat, perpecahan dan segala aura negatif yang berada di
dalamnya. Lebih menohok lagi indikator kerusuhan atau keretakan hubungan antar
manusia selalu mengindikatorkan politik sebagai dalangnya. Alhasil masyarakat
menempatkan politik sebagai kegiatan yang kotor dan gelap. Begitulah tuah dari
pada yang ditanam oleh politikus dan menuai kepada politik itu sendiri, bahkan
menjadikannya identitas yang tidak baik.
Memang tidak semua sudah memahami politik secara runut,
atau meneliti sedikit saja dari pada makna politik yang ideal sebagaimana
fungsinya. Kondisi inilah yang memaksa masyarakat tertanam dalam benak mereka
makna politik dari realitas yang mereka lihat melalui layar TV, media sosial,
berita online. Tingkah laku politikus yang ditonjolkan melalui media mau tidak
mau akan membentuk opini publik tentang definisi politik itu sendiri. Sebab
tidak semua masyarakat mampu menelaah sebagaimana kemampuan literasi yang ideal
dimiliki oleh manusia.
Kalau harus kita membuat klasifikasi kondisi
masyarakat atas pemahamannya terhadap politik mungkin bisa dibagi kepada banyak
bagian. Namun, saya melihat posisi yang unik dihuni oleh mereka yang
menempatkan dirinya sebagai yang mulai memahami politik namun masih ada sedikit
irisan dalam benaknya yang berdampak pada traumatik terhadap makna politik yang
sedang mereka pahami. Terlebih ketika DPR dan Pemerintah sepakat dengan
pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg) akan dilaksanakan
serentak, jelas masyarakat akan kenyang dengan informasi. Ketika itu ada
sebagian mereka yang mulai dengan politik namun terikat kuat dengan trauma yang
tadi. Disinilah saya menyebutnya dengan politik “Cari Aman”.
Terlihat terlalu naif mengkategorikan secara general
semua orang yang baru mulai memahami politik dengan dengan kaum cari aman.
Sebab tidak semua memilih untuk berada pada posisi aman dan tentram saja saat
isu politik terus memanas. Benar, tidak semua akan coba saya jabarkan kondisi
realitas yang dapat kita lihat sekarang.
Kaum cari aman dalam politik jika ditempatkan pada
kontestasi politik yang sedang memanas maka mereka adalah orang-orang yang
mulai memahami politik atau paham politik namun menempatkan dirinya pada
kondisi aman dengan tidak sepenuhnya ikut serta dalam pergulatan politik secara
praktis atau menentukan keberpihakan pada salah satu pilihan. Mungkin sebagian
akan menyebut mereka dengan golput atau istilah sejenisnya. Tapi yang ingin
ditekankan dari kaum cari aman ialah karena mereka memiliki pilihan atau
mungkin cenderung condong pada beberapa pihak namun enggan menunjukannya.
Kebijakan yang mereka pilih tentu bukan sembarangan,
namun ada sebagian yang tidak menunjukan pilihan karena untuk menghindari
apa-apa yang menurut mereka mengarah pada retaknya persatuan dan hubungan antar
keluarga atau kerabat. Tentu pertimbangan tersebut bukan satu hal yang salah,
sebagaimana istilah cari aman bukan frasa negatif yang coba dilabelkan.
Panasnya pertarungan politik tentu menyeret sebagian masyarakat untuk
memutuskan berada pada pinggiran jalur politik saja.
Memulainya
dari Definisi
Ketakutan seperti ini sangat wajar dialami oleh
masyarakat dan merupakan usaha yang baik menjaga kondusifitas masyarakat di
tengah pergulatan politik yang terus memanas. Namun realitas politik yang ada
harus benar-benar dipahami dengan baik. Masyarakat harus mulai memahami bahwa
politik adalah sarana menuju kesejahteraan rakyat dan negara. Bahkan secara
teoritikal, semakin banyak partai politik semakin besar partisipasi masyarakat
terhadap negara. Dan semakin banyak pula aspirasi rakyat tersampaikan untuk
memperjuangkan hak-haknya.
Kita sama-sama tahu kaidah yang begitu mulia dalam
politik tidak sebanding dengan realita politikus dalam beragam tingkah lakunya.
Semua tindak kriminal yang mengatas namakan politik merusak jati diri politik dan menempatkan
pada posisi yang mengkhawatirkan di mata masyarakat. Hasilnya masyarakat ragu
dan sama sekali tidak percaya dengan janji politik yang ada. lalu berujung pada
menurunnya kepedulian terhadap aktivitas politik. Opini masyarakat pun bergerak
ke arah menggeneralisir seluruh pelaku politik praktis sebagai pelaku kejahatan
yang sama dilakukan sebelumnya.
Oleh karena itu, perlulah kita menekankan pemahaman
politik yang seharusnya. Bahwa politik adalah sarana yang ada sekarang dan
legal dalam ranah konstitusi kita. Dengan cara itulah kita beraspirasi dan
menyatakan pendapat kepada pemerintahan. Sedangkan kejahatan politik hanyalah
oknum yang tidak bisa kita terjemahkan kepada makan politik itu sendiri.
Penjahat politik tetaplah penjahat, namun politik harus berlangsung untuk masa
depan bangsa dan negara.
Dari sana kita mulai memiliki keyakinan untuk
menjatuhkan pilihan politik. Saat masyarakat mulai mengerti bahwa kontestasi
politik adalah adu gagasan, bertarung dalam ide dengan satu tujuan yaitu
perbaikan ke depan, saat itulah trauma politik hilang dan pilihan politik
menjadi keasyikan tersendiri dari sebagian kehidupan kita. Tidak ada perpecahan
dan kerusuhan, tidak perlu lagi cari aman sebagai bertarung dalam politik
adalah pertarungan yang tidak akan menyakitkan, pertarungan yang seharusnya
menghasilkan kemakmuran tanpa harus berlumuran darah.
Definisi adalah usaha yang harus digencarkan guna
menetralisir makna politik yang terkena virus secara natural dari para
pelakunya. Sebab akar permasalahannya bukan pada definisi politik, melainkan
siapa yang menggunakannya. Seperti sepeda motor yang mendominasi angka
kecelakaan di Indonesia, tapi masih saja menjadi kendaraan utama masyarakat
kita. Artinya kita bisa lebih bijak lagi saat mulai memahami definisi yang lurus
dan sepadan.
Kaum
“Cari Aman” juga Berpolitik
Kembali lagi dengan kaum cari aman, sekali lagi
bukan kesalahan yang sedang kita bicarakan. Namun, memang sebagian memilih
jalan ini, dan ini buah dari pemahaman terhadap politik dan ulah politikus yang
merusak citra politik itu sendiri. Sehingga mereka memandang kondusifitas harus
diciptakan dengan tidak selalu membicarakan politik atau mendukung satu
pasangan atau partai tertentiu sehingga akan selalu bersinggungan dengan orang
yang berbeda pilihan. Kondusif itu dipandang penting saat melihat politik
sebagai dalang retaknya hubungan sosial antar manusia.
Berada dalam pertarungan politik bukan hal yang
mudah dan santai. Politik sering diartikan sebagai sarana menuju kekuasaan. Tidak
jarang terjadi saling sikut untuk meraihnya. Definisi minimalis dari Harold Lasswell
juga menarik, “siapa mendapat apa, kapan
dan bagaimana”. Begitu juga Vladimir Lenin, “siapa melakukan apa kepada siapa”. Segala jenis kegiatan untuk
mendapatkana sesuatu, dengan cara, bersama siapa dan apa yang dituju maka itu
adalah politik.
Dengan begitu saat berusaha menghindari isu politik
untuk berada dalam kondisi aman, damai, tidak ada permusuhan sama saja dengan
berpolitik untuk mencapai tujuan tersebut. Mereka berpolitik untuk menjauhkan
isu politik yang melekat pada dirinya sehingga terhindar dari ketegangan
hubungan sosial karena berbeda pilihan politik. Sehingga dalam konteks ini
tidak berpolitik adalah politik juga. Bahkan berpolitik untuk kepentingan
dirinya sendiri, sedangan partai politik yang ada berpolitik untuk kepentingan
bersama.
Oleh karena itu, bukan memaksakan diri untuk selalu
ikut serta dalam kancah perpolitikan di Indonesia. Sebab bagaiamanapun hubungan
yang memanas antar masyarakat yang menghangat saat musim politik berlangsung harus
diredam sikap cari aman tersebut. Akan tetapi pada saatnya, ketika masyarakat
mulai sama-sama menyadari politik sebagai sarana masyarakat untuk berkontribusi
untuk hak mereka, bangsa dan negara, saat politikus amanah mengemban
jabatannya, saat itulah pertarungan politik menyenangkan dan ditunggu-tunggu
seperti pertandingan sepak bola.
Wallahu a’lam bisshowab.

Komentar
Posting Komentar