Sumber : http://www.penapembaharu.com/2016/11/01/menyadari-peran-worldview-dalam-suatu-peradaban/
Dalam sebuah acara kuliah umum atau seminar Dr. Hamid Fahmy Zarkasy menceritakan bagaimana seorang ibu mengatakan bahwa Amerika sangat islami. Ketika dijelaskan, islami yang dimaksud ibu itu adalah kedisiplinan, kerapihan dan ketertiban lalu lintas. Apakah seperti itu yang disebut islami ? tentu tidak.
Dalam menilai kemajuan atau kemunduran sebuah peradaban tidak hanya materi yang kita lihat. Ada non-materi yang sering terlupakan, bahkan bisa jadi yang non-materi ini yang lebih fundamental untuk sebuah peradaban. Seorang kafir yang bersih tidak lebih islami dari seorang mu’min. Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis (QS At-Taubah : 28). Di luar perdebatan ayat ini, seorang yang bernilai tinggi dalam hal materi seperti kebersihan, kedisiplinan belum tentu tinggi dihadapan Allah jika non-materi bernilai rendah.
Disinilah worldview atau cara pandang menjadi sangat menentukan. Bagi kita Islamic worldview menjadi ruh peradaban. Menurut pandangan Islam majunya suatu peradaban bukan (hanya) karena tingginya gedung, besarnya nilai mata uang, atau indahnya istana pemimpin. Ada non-materi yang mulai redup yaitu keimanan dan ketaqwaan. Sehingga menjadi hak mereka menganggap Islam mundur dan kalah maju dari Barat. Karena mereka menilai dengan memandang materinya saja. Akhirnya kita diajar-ajari untuk menjadi maju dengan mengikuti Barat –westernisasi-, padahal kita lebih dulu memberikan cahaya keilmuan di dunia ini.
Atau pada peristiwa lain ada klaim bahwa Barat maju karena mengikuti pemikiran Ibnu Rusyd dan Muslim mundur karena mengikuti pemikiran al-Ghazali. Teori kepastian kausalitas yang menjadi basis sains modern yang terpisah dari agama seakan menuduh al-Ghazali sepenuhnya mengingkari kausalitas sehingga mengingkari kepastian ilmu pengetahuan. Padahal, al-Ghazali menerima kausalitas tapi tidak menerima kepastiannya.
Sebenarnya teka-teki kemunduran sebuah peradaban itu sudah bukan barang baru. Pada akhirnya akan berujung kepada worldview mana yang akan digunakan untuk memandang sebuah peradaban itu maju atau mundur. Setiap peradaban memiliki worldview khasnya sendiri, termasuk islam. Sehingga jika terus menarik kesimpulan yang sembrono tentang kemunduran Peradaban Islam (dengan worldview lain) maka menjadi sangat tidak selaras.
Islamic worldview sangat penting untuk kehidupan beradab umat Islam kedepan. Selain keniscayaan, ia juga akan melahirkan optimisme sebagai seorang muslim. Meskipun secara pembangunan dan teknologi seperti terlambat, tapi kita punya keimanan yang menjadi standar tertinggi untuk peradaban Islam. Jika setiap kita sadar dengan basis peradaban adalah iman, setidaknya kita punya kepercayaan diri untuk mengejar kemajuan dunia sebagaimana pendahulu kita pernah melakukannya.
Oleh karena itu, worldview lah yang membedakan sebuah peradaban dengan peradaban lainnya. Dan hasilnya akan sangat berbeda. Ketika berpijak kepada Islamic worldview maka peradaban akan berdiri berdasarkan wahyu dan terus berjalan dalam jalur agama. Sedangkan jika berdasarkan worldview Barat maka kita akan melepaskan agama dan hanya berjalan dengan rasionalitas.
Wallahu a’lam bisshowab.

Mantap bang memberi inspirasi hehe
BalasHapusTerima kasih, selamat berjuang (y)
Hapus