Langsung ke konten utama

Bedah Buku : "The Harmony of Humanity" (Menjawab Provokasi Samuel P. Huntington)

Dalam kesempatan kali ini saya ingin mencoba mengulas acara bedah buku di IBF 2016 yang membedah buku fenomenal karya Dr. Raghib Assirjani yang berjudul The Harmony Of Humanity. Buku ini sebuah langkah besar Dr. Raghib dalam menyelesaikan pelbagai konflik (horizontal maupun vertikal) yang kita alami semenjak pecahnya cold war (perang dingin) atau setelah komunis hancur (salah satunya).

Dalam kesempatan ini tamu yang diundang untuk membedah buku ini adalah Ikhwanul Kiram (wartawan senior) dan Adian Husaini (pemikir dan penulis muda). Walaupun saya tidak sempat mendengarkan paparan dari Ikhwanul Kiram karena terlambat, tapi saya masih berkesempatan paparan Dr. Adian Husaini dari awal.

Dalam membedah buku ini (The Harmon of Humanity) kita harus mengenal sedikitnya perihal Huntington dan pemikirannya. Karena Dr. Raghib menulis buku ini secara khusus sebagai “antitesis teori the of civilization Samuel P. Huntington. Dan Dr. Adian Husaini sedikitnya menyampaikan bagaimana teori Huntington tentang aebuah peradaban yang nantinya dijawab oleh Dr. Raghib dalam buku ini.

Jika menilik sejarah sebenarnya cold war antara blok barat dan timur hanyalah perang sesaat. Ketika komunis runtuh maka liberal (barat) memimpin peradabannya.

Menurut Fukuyama komunis runtuh, liberal memimpin selesai sudah dunia ini. Maka sebenarnya peradaban barat itu sudah selesai. Jika diibaratkan dalam pandangan Fukuyama barat itu sudah sampai puncaknya, sudah tidak mungkin untuk naik dan hanya tinggal menunggu waktu kapan akan turun. Hanya saja peradaban mana yang akan menjadi penggantinya. China ? Japan ? Islam ?

Kita coba lihat sejarah lagi. Ketika barat sudah mulai bingung dan harus ada yang dilakukan. Huntington dan Fukuyama memberikan pengaruh yang cukup besar dalam pergerakan barat. Salah satunya menurut Dr. Adian Husaini adalah perkataan Huntington yang mengatakan “to know self definition and motivation you need an enemy”. Jadi aebenarnya provokasi Huntington terhadap barat cukup barat. Apalagi jika kita melihat islam yang selalu jadi bahan bagi barat, hingga muncul islamiphobia.

Provokasi2 yang ekslusif dilakukan Huntington cukup membuat barat benar-benar membenci islam (islamophobia). Apalagi kalau melihat fakta bahwa dari 8 peradaban yang ada dunia hanya islam yang sudah mengungguli barat.
Lebih jelas lagi Huntington dalam bukunya pada tahun 2004 yang berjudul “Who Are We” berkata “kita sekarang sudah tahu siapa musuh kita, dia adalah ISLAM MILITAN”. Dengan begitu doa seperti mengajak barat untuk terus menyempitkan posisi islam dimanapun berada, jika ada kesempatan serang dia lalau siapkan media. Oleh karenanya teriakan anti islam lebih keras anti-anti lainnya.

“Dalam dunia politik Amerika faktanya mengatakan bahwa kebanyakan pelaku kriminal adalah China tapi apakah ada Anti-China ? Yang membom Pearl Harbour itu Jepang, lantas apa ada Anti-Japan. Tapi ketika tragedi 11 September dengan penuh kejanggalan munculah Anti-islam” tegas Dr. Adian Husaini.

Selalu saja Islam yang dicederai padahal yang mengantar dunia ini kepada terangnya dunia adalah islam. Dalam sebuah karya yang berjudul “what islam did for us” oleh sejarawan Irandia. Disitu dikatakan “the west debt to islam” (hutang-hutang barat kepada islam). Mengapa begitu, karena islam membagikan buku-buku ke barat demi menyampaikan ilmu agar manusia di dunia hidup berpengetahuan. Dan muslim menganggapnya itu sebagai amal jariyah dan tanpa dipungut biaya.

Sebenarnya islamlah peradaban sebenarnya. Yang mengayomi semua umat manusia tanpa membedakan ras dan suku. Barat hanya belajar dari generasi emas islam kala itu. Benar kata Fukuyama, bahwa barat sebenarnya sudah sampai puncaknya dan habis dan dia akan turun. Soekarno sudah mengatakannya sejak 60an “Kapitalisme sudah sampai puncaknya dan dia akan rurun”.

Buku yang cukup tebal ini sangat layak dibaca oleh para pemikir untuk lebih memperluas wawasan. meski Dr. Adian keberatan dengan beberapa hal seperti pembagian agama samawi dan non samawi. Tapi tetap secara keseluruhan buku ini sangat menarik.

Dalam buku The Harmony of Humanity sebenarnya Dr. Raghib mengajak kepada kita untuk meneruskan apa-apa yang kurang dari bukunya. buku ini mampu menjawab mengapa konflik dimana-mana hadir tapi selalu islam yang terpojokan. Dan menjelaskan kepada kita bagaimana bangsa-bangsa dunia ini bisa hidup harmonis bersama. Dengan banyaknya persamaan antar manusia meski tidak sedikit juga perbedaannya. Selalu ada jalan untuk manusia seluruh dunia hidup berdampingan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teruntuk Pemuda (Special Edition)

Tidak berlebihan setiap tokoh selalu menjatuhkan beban masa depan bangsa kepada pemuda. Terlalu banyak nilai dari kisah yang mengagumkan dengan menonjolkan seorang pemuda menjadi sosok manusia super (superman ). Seakan segala kondisi disebabkan oleh pemuda dan akan dituntaskan oleh pemuda juga. Fenomena pemuda seperti cerita hero (jagoan), menarik dibicarakan karena hero akan bertemu lawan yang sepadan pada masanya. Dan pemuda tinggal memilih posisi mana yang akan ia perankan. Islam tidak main-main jika berbicara pemuda. Kisah ashabul kahfi Allah swt sampaikan kepada Rasulullah sebagai motivasi bagi pemuda saat itu. Bagi seorang muslim harus meyakini bahwa salah satu pertanyaan kepada anak Adam pada hari kiamat kelak adalah “tentang masa mudanya dimana dia usangkan?”. Rasulullah saw berpesan, “manfaatkan 5 perkara sebelum 5 perkara; waktu muda mu sebelum datang waktu tua mu...”. Pemuda memiliki berbagai karakteristik yang menonjol, kondisi ini menjadikan dirinya dominan dal...

Perempuan Menutup Aurat atau Lelaki Menahan Nafsu?

Polemik patriarki selalu jadi tema pembahasan para feminism. Ada sudut pandang lain yang menurut mereka lelaki terlalu spesial dari perempuan.  Salah satunya soal perintah perempuan harus menutup aurat, lalu dihubungkan dengan soal tindakan kriminal, pemerkosaan dan menjaga kehormatan. Feminism melihat bukan soal perempuan yang harus menutup aurat, tapi lelakilah yang harus menahan nafsu. Dari sinilah perseteruan dimulai! Menurut saya, tidak ada polemik yang perlu diperpanjang, entah siapa yang memulai, tapi pembahasan ini seharusnya selesai sejak kedua titah itu dituliskan. Jika dilanjutkan, akhirnya muncul ribuan pertanyaan. Kenapa perempuan harus bertanggung jawab atas nafsu lelaki? Kenapa perempuan yang harus jaga diri dari lelaki, bukan sebaliknya? Dari pihak lain akan bertanya juga dengan konteksnya.  Menutup aurat itu kewajiban bagi perempuan, begitu juga menahan nafsu wajib bagi lelaki. Ego masing-masing yang membuat perdebatan ini tidak ada endingnya. Ada satu perspek...

Literasi Kopi (1)

Gambar oleh  Free Photos  dari  Pixabay Kita sedang hidup di era semua permasalahan bisa terselesaikan oleh secangkir kopi. Renungan derita pekerjaan selama satu pekan seolah cair oleh kopi. Setumpuk tugas di atas meja kerja seakan tuntas terbawa arus tegukan kopi. Dari puluhan kata kopi yang terucap setiap harinya, seberapa jauh pengetahuan mereka tentang kopi. Apakah kopi hitam bercampur dengan logo kapal pinisi itu jadi standardisasi kopi yang dimaksud? Ataukah suasana kafe yang estetik dan instagramabble adalah maksud dari kopi? Menjadikan kopi sebagai langkah menyelesaikan masalah memang salah satu jawaban. Tidak bisa kita salahkan, tidak juga sepenuhnya kita benarkan. Kopi adalah biji dari tumbuhan kopi, melalui beragam proses, maka lahirnya bubuk kopi yang siap seduh. Mengapa kalimat di atas patut kita benarkan? Sebab kopi mengandung kafein yang dapar merangsang semangat. Mari sempatkan kita baca beberapa artikel atau jurnal tentang kopi yang berhubungan dengan pen...